Di Balik 5.610 Barel Minyak Sehari: Kisah Para Insinyur Mengoptimalkan Sumur Gunung Kemala

Listen to this article

PRABUMULIH, Lembayungnews.com – Angka 5.610 barel minyak per hari bukan sekadar catatan produksi dari sebuah sumur minyak. Di balik angka tersebut, terdapat perhitungan teknis, strategi pengeboran, dan keputusan engineering yang menuntut ketelitian agar potensi minyak dari dalam bumi dapat diangkat secara optimal.

Di kawasan Gunung Kemala, keberhasilan awal Sumur GNK-PD 80 menjadi gambaran bagaimana teknologi dan kerja tim memainkan peran penting dalam pengembangan lapangan minyak dan gas bumi yang telah lama berproduksi.

Sumur yang dikelola Pertamina Hulu Rokan (PHR) Zona 4 itu mencatat produksi awal sekitar 5.610 barel minyak per hari atau barrels of oil per day (BOPD). Sementara itu, Sumur GNK-PD 66 mencatat produksi awal sekitar 2.423 BOPD.

Hasil tersebut tidak hadir begitu saja. Ada rangkaian pekerjaan yang dimulai dari kajian bawah permukaan, perencanaan lintasan pengeboran, pemilihan metode penyelesaian sumur, hingga pengaturan waktu dan biaya operasional.

Di balik proses itu, para insinyur dan tim operasional berhadapan dengan satu tantangan besar: bagaimana memaksimalkan potensi reservoir dengan tetap memperhatikan efisiensi dan keberlanjutan produksi.

Anton Budi Prasetio dan Strategi di Balik Pengeboran

Assistant Manager Drilling Operation Area 2 PHR Zona 4, Anton Budi Prasetio, menjadi salah satu tokoh yang memaparkan capaian teknis pengembangan sumur di Gunung Kemala tersebut pada Kamis, 15 Oktober 2026.

Paparan itu menggambarkan bahwa keberhasilan pengeboran tidak hanya ditentukan oleh kemampuan menembus lapisan bumi. Perencanaan teknis, ketepatan memilih desain sumur, serta strategi pengerjaan juga menentukan hasil yang dapat dicapai.

“Awalnya, kami menginisiasi proyek ini sekitar dua tahun yang lalu, tepatnya pada Februari 2023. Proyek ini merupakan hasil inisiasi dari tim kami setelah melihat adanya potensi besar yang bisa dikembangkan,” ujar Anton mengawali pemaparan proyek dual completion ini di hadapan puluhan Jurnalis yang mengikuti media field trip oleh PEP Prabumulih dan Limau Field.

Pada GNK-PD 80, salah satu pendekatan yang menjadi perhatian adalah penggunaan teknologi dual completion. Sistem ini memungkinkan dua zona produktif dalam satu sumur diproduksikan melalui dua rangkaian produksi yang berbeda.

Hasil awalnya menunjukkan, rangkaian long string menghasilkan sekitar 2.873 BOPD, sedangkan short string mencapai sekitar 2.737 BOPD. Jika digabungkan, keduanya menghasilkan sekitar 5.610 BOPD.

Angka tersebut jauh melampaui perkiraan awal yang disebut berada di kisaran 212 BOPD.

Namun, bagi tim teknis, capaian awal yang tinggi bukanlah akhir dari pekerjaan. Kinerja sumur tetap harus dipantau untuk mengetahui kestabilan produksi, perubahan kandungan air, dan perilaku reservoir dalam periode berikutnya.

Sebab, dalam industri hulu migas, keberhasilan tidak cukup diukur dari besarnya produksi pada awal pengoperasian. Kemampuan mempertahankan produksi dan mengendalikan biaya juga menjadi bagian penting dari keberhasilan pengembangan sumur.

Ernezt Febrian dan Tantangan Mengalirkan Dua Zona Produktif

Di balik penerapan teknologi tersebut, terdapat pula pekerjaan engineering yang menuntut perencanaan terperinci.

Ernezt Febrian, salah satu engineer Drilling PHR Zona 4, menjelaskan bahwa proyek batch drilling tahun ini mencakup kegiatan pengeboran di Benuang dan Gunung Kemala. Salah satu aspek yang menjadi perhatian adalah penerapan teknologi dual completion pada sumur yang memiliki dua zona produktif potensial.

Menurut Ernezt, proses pengeboran pada dasarnya tetap mengikuti tahapan teknis sebagaimana sumur konvensional hingga mencapai bagian lubang berdiameter 8,5 inci.

Perbedaan utama terdapat pada tahap completion atau penyelesaian sumur. Pada tahap inilah desain khusus diterapkan agar dua zona produktif dapat dialirkan melalui rangkaian produksi masing-masing.

“Dengan adanya dua zona yang cukup menarik, kami melakukan kajian agar keduanya bisa diproduksikan dalam satu sumur secara bersamaan,” jelas Ernezt dalam pemaparan tersebut.

Pernyataan itu memperlihatkan bahwa keputusan menerapkan teknologi bukan semata-mata mengikuti perkembangan peralatan. Ada kajian tim engineering dan subsurface untuk menilai potensi setiap zona, kemudian menentukan metode yang sesuai dengan kebutuhan sumur.

Pada GNK-PD 80, kedua zona tersebut diproduksikan melalui rangkaian long string dan short string. Pemasangan dua rangkaian tubing secara bersamaan menggunakan metode running tandem menjadi bagian penting dalam penyelesaian sumur.

Pekerjaan tersebut membutuhkan koordinasi dan ketelitian karena desain penyelesaian sumur harus sesuai dengan perencanaan teknis agar setiap zona dapat diproduksikan sebagaimana ditargetkan.

Teknologi ini membuka peluang untuk memanfaatkan dua zona produktif melalui satu sumur. Meski demikian, manfaat ekonominya tetap perlu dinilai berdasarkan biaya aktual dan kinerja produksi dalam jangka panjang.

Dari Desain Sumur hingga Efisiensi Operasional

Pekerjaan para insinyur tidak berhenti pada pemilihan teknologi. Pengaturan waktu, perpindahan rig, serta koordinasi setiap tahapan pengeboran juga menjadi bagian penting dalam proyek pengembangan Gunung Kemala.

Dalam proyek lima sumur tersebut, tim menerapkan pola pengerjaan 2-1-2, yakni dua sumur dikerjakan terlebih dahulu, dilanjutkan satu sumur, kemudian dua sumur berikutnya.

Pola tersebut dirancang untuk membuat perpindahan rig lebih efektif sekaligus menekan waktu tunggu di antara tahapan pekerjaan.

Hasilnya, waktu pengerjaan GNK-PD 80 dilaporkan mencapai sekitar 55 hari, lebih cepat 16 hari dibandingkan rencana awal selama 71 hari. Tim juga menyampaikan penghematan biaya sekitar 24 persen dibandingkan perencanaan.

Capaian tersebut memperlihatkan bahwa efisiensi dalam industri migas tidak hanya berkaitan dengan kecepatan kerja, tetapi juga kemampuan mengelola sumber daya dan menyusun strategi operasional.

Meski begitu, angka penghematan terhadap rencana awal tidak serta-merta menunjukkan besaran biaya produksi per barel sepanjang umur sumur. Penilaian tersebut membutuhkan data biaya dan produksi yang lebih menyeluruh.

Di sisi lain, penerapan directional drilling atau pengeboran berarah memungkinkan lintasan sumur diarahkan menuju target reservoir yang telah ditentukan.

GNK-PD 80 menggunakan lintasan S-type, sedangkan GNK-PD 66 menerapkan lintasan C-type. Perbedaan desain ini menunjukkan bahwa lintasan pengeboran disesuaikan dengan kebutuhan teknis masing-masing sumur.

Adapun GNK-PD 66 menggunakan sistem single completion, dengan produksi awal sekitar 2.423 BOPD dan produksi gas sekitar 1,9 juta kaki kubik standar per hari (MMSCFD).

Kedua sumur tersebut memperlihatkan bahwa pengembangan lapangan membutuhkan kombinasi antara teknologi, ketepatan desain, dan strategi pengerjaan yang sesuai dengan kondisi bawah permukaan.

Reza Nur Ardianto dan Harapan bagi Lapangan Mature

Di tingkat pengembangan lapangan, capaian tersebut menjadi bagian dari upaya mengoptimalkan lapangan migas yang telah lama berproduksi atau dikenal sebagai mature field.

Senior Manager Subsurface and Development and Planning (SSDP) PHR Zona 4, Reza Nur Ardianto, menegaskan bahwa hasil pengembangan sumur akan menjadi bahan evaluasi untuk meningkatkan optimalisasi pengurasan minyak dan gas di wilayah operasional Zona 4.

“Kami akan menjadikan pencapaian ini sebagai catatan dalam upaya mengoptimalkan pengurasan minyak dan gas di lapangan mature Zona 4 dan terus melakukan inovasi dalam mendukung ketahanan energi,” ucap Reza.

Pernyataan tersebut menempatkan capaian GNK-PD 80 dan GNK-PD 66 bukan hanya sebagai keberhasilan teknis dari dua sumur, melainkan juga sebagai bahan pembelajaran bagi pengembangan lapangan berikutnya.

Pada lapangan yang telah lama berproduksi, tantangan yang dihadapi tidak selalu sama dengan lapangan baru. Tim perlu memahami karakteristik reservoir, mengevaluasi potensi yang masih tersisa, serta menentukan teknologi yang paling sesuai untuk mengoptimalkan produksi.

Karena itu, keberhasilan satu sumur dapat menjadi masukan bagi strategi pengembangan berikutnya. Namun, penerapannya tetap harus mempertimbangkan karakteristik masing-masing reservoir dan hasil evaluasi teknis.

Produksi Awal Bukanlah Garis Akhir

Ketika GNK-PD 80 mencatat produksi awal sekitar 5.610 BOPD, perhatian tentu tertuju pada besarnya angka tersebut. Akan tetapi, pekerjaan tim belum selesai.

Dalam pengembangan migas, produksi awal yang tinggi perlu diikuti pemantauan berkelanjutan. Laju produksi minyak dan gas, kandungan air, kondisi reservoir, serta kebutuhan operasional akan menentukan bagaimana sumur berkinerja setelah beroperasi lebih lama.

Pada saat paparan teknis berlangsung, pekerjaan pengeboran lima sumur dalam proyek tersebut masih berlanjut. Rig dilaporkan berada di GNK-PD 68 dan tengah mengerjakan bagian lubang berdiameter 17,5 inci, dengan kedalaman titik pemasangan casing pada tahap itu diperkirakan sekitar 700 meter.

Pengeboran direncanakan berlanjut mengikuti pola pengerjaan yang telah ditetapkan hingga seluruh sumur dalam proyek tersebut selesai dikerjakan.

Di balik setiap tahapan itu, terdapat pekerjaan yang tidak selalu terlihat oleh publik: membaca data bawah permukaan, menghitung risiko teknis, merencanakan lintasan, memastikan kesiapan peralatan, dan menjaga setiap tahapan berjalan sesuai prosedur.

Anton Budi Prasetio, Ernezt Febrian, Reza Nur Ardianto, serta tim pengeboran dan subsurface berada dalam rangkaian pekerjaan yang saling berkaitan tersebut, dengan peran masing-masing dalam operasional dan pengembangan lapangan.

Capaian GNK-PD 80 dan GNK-PD 66 pada akhirnya memberikan gambaran tentang bagaimana inovasi teknologi dan strategi operasional dapat membuka peluang baru dalam mengoptimalkan potensi migas.

Namun, ukuran keberhasilan yang sesungguhnya akan terlihat dari kemampuan menjaga produksi, mengelola biaya, serta memastikan operasi berjalan aman dan bertanggung jawab dalam jangka panjang.

Di Gunung Kemala, angka produksi awal menjadi titik penting. Sementara itu, pekerjaan para insinyur dan seluruh tim operasional masih berlanjut untuk memastikan potensi yang berhasil dibuka dapat memberikan manfaat secara berkelanjutan bagi industri migas dan ketahanan energi nasional.

Editor: Rasman Ifhandi (Raif)

Exit mobile version